Rabu, 05 Oktober 2011

TUGAS KELOMPOK MANAJEMEN MUTU , ,KOKO , EMPTIANUS, FAJAR, INDRA, YUDI

TUGAS MUTU KELOMPOK :

KOKO BERFIANOMO (22.44.08.140)
YUDI ARIFIANSYAH (22.44.08.010)
FAJAR SIDIK (22.44.08.106)
EMTIANUS (22.44.08.121)

Manajemen mutu merupakan sebuah filsafat dan budaya organisasi yang menekankan kepada

upaya menciptakan mutu yang konstan melalui setiap aspek dalam kegiatan organisasi. Manajemen

mutu membutuhkan pemahaman mengenai sifat mutu dan sifat sistem mutu serta komitmen manajemen

untuk bekerja dalm berbagai cara. Manajemen mutu sangat memerlukan figure pemimpin yang mampu

memotivasi agar seluruh anggota dalam organisai dapat memberikan konstribusi semaksimal mungkin

kepada organisasi. Hal tersebut dapat dibangkitkan melalui pemahaman dan penjiwaan secara sadar

bahwa mutu suatu produk atau jasa tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi menjadi

tanggung jawab seluruh anggota dalam organisasi.

Pengertian Mutu

Dugaan dan penafsiran yang sering timbul bahwa "mutu" diartikan sebagai sesuatu yang :

- Unggul dan bermutu tinggi

- Mahal harganya

- Kelas, tingkat atau bernilai tinggi

Dugaan dan penafsiran tersebut di atas kurang tepat untuk dijadikan dasar dalam menganalisa dan menilai

mutu suatu produk atau pelayanan. Tidak jauh berbeda dengan kebiasan mendefinisikan "mutu" dengan

cara membandingkan satu produk dengan produklainnya. Misalnya jam tangan Seiko lebih baik dari jam

tangan Alba.

Kedua pengertian mutu tersebut pada dasarnya mengartikan tingkat keseragaman yang dapat diramalkan

dan diandalkan, disesuaikan dengan kebutuhan serta dapat diterima oleh pelanggan (custumer).

Secara singkat mutu dapat diartikan: kesesuaian penggunaan atau kesesuaian tujuan atau kepuasan

pelanggan atau pemenuhan terhadap persyaratan.

Mutu Harus Berfokus pada Kebutuhan Pelanggan

Prinsip mutu, yaitu memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dalam manajemen mutu,

pelanggan dibedakan menjadi dua, yaitu:

- Pelanggan internal (di dalam organisasi)

- Pelanggan eksternak (di luar organisasi)

Pada pengertian manajemen tradisional, yang dimaksud pelanggan adalah pelanggan eksternal (di luar

organisasi). Mengapa pelanggan internal menjadi perhatian manajemen mutu? Jawabnya, adalah apabila

pribadi yang ada di dalam organisasi tersebut dilayani dengan baik, otomatis mereka akan melayani

pelanggan eksternal secara baik pula.

Organisasi dikatakan bermutu apabila kebutuhan pelanggan bisa dipenuhi dengan baik. Dalam arti bahwa

pelanggan internal, missal guru, selalu mendapat pelayanan yang memuaskan dari petugas TU, Kepala

Sekolah selalu puas terhadap hasil kerja guru dan guru selalu menanggapi keinginan siswa.

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN MUTU

Manajemen mutu adalah aspek dari seluruh fungsi manajemen yang menetapkan dan melaksanakan

kebijakan mutu. Pencapaian mutu yang diinginkan memerlukan kesepakatan dan partisipasi seluruh

anggota organisasi, sedangkan tanggung jawab manajemen mutu ada pada pimpinan puncak. Untuk

melaksanakan manajemen mutu dengan baik dan menuju keberhasilan, diperlukan prinsip-prinsip dasar

yang kuat. Prinsip dasar manajemen mutu terdiri dari 8 butir, sebagai berikut:

1.

Setiap orang memiliki pelanggan

2.

Setiap orang bekerja dalam sebuah sistem

3.

Semua sistem menunjukkan variasi

4.

Mutu bukan pengeluaran biaya tetapi investasi

5.

Peningkatan mutu harus dilakukan sesuai perencanaan

6.

Peningkatan mutu harus menjadi pandangan hidup

7.

Manajemen berdasarkan fakta dan data

8.

Fokus pengendalian (control) pada proses, bukan hanya pada hasil out put

DEFINISI STANDAR

Standar didefinisikan sebagai : Suatu dokumen tertulis, yang naskah utamanya berisi ketentuan-ketentuan

yang menunjukkan persyaratan yang perlu ditaati, dan secara umum tidak bertentangan dengan standar

atau kode lain, atau bila diadopsi menjadi ketentuan

Definisi Nilai

Perkataan “nilai” dapat ditafsirkan sebagai ” makna” atau “arti” (worth) sesuatu barang/benda. Hal ini

mempunyai pengertian bahwa sesuatu barang/benda akan mempunyai nilai bagi seseorang jika barang/

benda tersebut memberi makna atau arti bagi seseorang tersebut.a



Keyakinan yang bertahan bahwa cara bertingkah laku tertentu atau keberadaan tertentu lebih baik

daripada yang lainnya.



Prinsip, standar atau mutu yang dianggap berfaedah atau yang diinginkan sekali.

Nilai biasanya mendorong tingkah laku dan berkaitan langsung dengan kepuasan atau pemenuhan hidup

atau kerja.

Pengertian Kepuasan Pelanggan

Kepuasan pelanggan sebagai evaluasi secara sadar atau penilaian kognitif menyangkut apakah kinerja

produk relatif bagus atau jelek atau apakah produk bersangkutan cocok atau tidak cocok dengan tujuan/

pemakaiannya. Pengertian secara umum Kepuasan Pelanggan adalah hasil yang dirasakan oleh pembeli

yang mengalami kinerja sebuah perusahaan yang sesuai dengan harapannya. Pelanggan merasa puas

kalau harapan mereka terpenuhi, dan merasa amat gembira kalau harapan mereka terlampaui. Pelanggan

yang puas cenderung tetap loyal lebih lama, membeli lebih banyak, kurang peka terhadap perubahan

harga dan pembicaraannya menguntungkan perusahaan. Dalam rangka menciptakan kepuasan pelanggan,

produk yang ditawarkan organisasi/perusahaan harus berkualitas. Kualitas mencerminkan semua dimensi

penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan.

Zero Defect

Produk tanpa cacat (zero defects) adalah kondisi ideal yang selalu didambakan, baik oleh pembuat barang

(produk dan atau jasa) maupun pelanggan atau konsumen yang memakainya. Bagi perusahaan pabrikan,

dengan zero defects maka waste(pemborosan) dapat ditekan. Masih ingat bukan?, bahwa salah satu

jenis mudaadalah barang atau produk cacat (defect). Sedangkan keuntungan bagi konsumen jelas. Produk

(apalagi yang baru dibeli/baru) sangat menjengkelkan apabila ditemukan kerusakan yang mengakibatkan

tampilan ataupun performa menjadi tidak maksimal.

Intinya, cacat kualitas mempunyai efek biaya (cost) besar yang berhubungan dengannya. Di samping

reputasi perusahaan atau merek (brand) akan turun, waktu, dan uang yang terbuang sia-sia. Di sisi lain

progam mengurangi atau bahkan menghilangkan defect membutuhkan effort besar berupa waktu dan

biaya yang tidak sedikit. Pertanyaan yang kemudian muncul: “Apakah mungkin semuaoutput produk

berkualitas sempurna, tanpa cacat atau zero defects?.

Ungkapan “zero defects” and “right first time” dipromosikan pertama kali oleh seorang tokoh manajemen

kualitas Philip Crosby, awal tahun 1970-an. Zero defectsPhilip Crosby bukanlah berarti melakukan

dengan sempurna dan tanpa kesalahan. Merupakan hal yang sungguh sangat sulit atau bahkan mustahil

dilakukan khususnya pada industri manufaktur dengan ratusan proses dan dengan ribuanparts atau

komponen. Crosby mau menekankan bahwa tidak bisa diijinkan sejumlah kesalahan dibangun pada suatu

produk atau proses dan mau mengubah perspektif orang.

ISO 9001 merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu. Suatu lembaga/organisasi

yang telah mendapatkan akreditasi (pengakuan dari pihak lain yang independen) ISO tersebut, dapat

dikatakan telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal manajemen penjaminan mutu produk/jasa

yang dihasilkannya.

OHSAS 18000Top of Form

Kegiatan ekonomi dan produktivitas, selain berdampak pada lingkungan, pada gilirannya akan

berdampak pada personil-personil dalam dan/atau luar organisasi tergantung luasnya pengaruh

kerusakan lingkungan yang terjadi.

Sejak tahun 1950, Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization,

ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah berbagi

definisi mengenai kesehatan kerja. Dalam revisi terakhir tahun 1995, definisi dari kesehatan

kerja (occupational health) adalah, "Occupational health should aim at: the promotion and

maintenance of the highest degree of physical, mental and social well-being of workers in all

occupations; the prevention amongst workers of departures from health caused by their working

conditions; the protection of workers in their employment from risks resulting from factors

adverse to health; the placing and maintenance of the worker in an occupational environment

adapted to his physiological and psychological capabilities; and, to summarize, the adaptation

of work to man and of each man to his job." Standar OHSAS 18000 merupakan spesifikasi dari

sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja internasional untuk membantu organisasi

mengendalikan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan personilnya.

Standar ini diterbitkan oleh komite teknis yang terdiri dari badan standardisasi nasional,

lembaga sertifikasi dan para konsultan, diantaranya adalah: National Standards Authority of

Ireland, Standards Australia, South African Bureau of Standards, British Standards Institution,

Bureau Veritas Quality International, Det Norske Veritas, Lloyds Register Quality Assurance,

National Quality Assurance, SFS Certification, SGS Yarsley International Certification Services,

dan lain sebagainya.

Spesifikasi dan persyaratan diatur dalam OHSAS 18001 dan pedomannya diberikan pada

OHSAS 18002. Revisi terakhir adalah tahun 2007. Standar ini juga kompatibel dengan ISO 9000

dan ISO 14000. Umumnya, ke-3 standar ini diaplikasikan sebagai integrated system.

Bottom of Form

Siklus Deming

PDCA,

Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti), adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah iteratif

yang umum digunakan dalam pengendalian kualitas. Metode ini dipopulerkan oleh W. Edwards

singkatan bahasa

Inggris dari

"Plan, Do, Check, Act"

(Indonesia:Rencanakan,

Deming, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas modern sehingga sering

juga disebut dengan siklus Deming. Deming sendiri selalu merujuk metode ini sebagai siklus

Shewhart, dari nama Walter A. Shewhart, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian

kualitas statistis. Belakangan, Deming memodifikasi PDCA menjadi PDSA ("Plan, Do, Study,

Act") untuk lebih menggambarkan rekomendasinya.

Siklus PDCA atau Plan – Do – Check – Action dipopulerkan oleh W Edwards Deming

(14 Oktober 1900 – 20 Desember 1993) seorang Professor, Pengarang Buku, Pengajar dan

Konsultan. Ia dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas modern sehingga siklus ini sering

disebut juga dengan siklus Deming. Siklus PDCA atau Siklus ‘Rencanakan – Kerjakan – Cek

– Tindaklanjuti adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah yang umum digunakan

dalam pengendalian kualitas.

Deming yang merupakan pencetus dari siklus PDCA ini mengatakan bahwa jika

organisasi ingin menghasilkan mutu dari produk atau jasa yang akan dihasilkan, maka roda

siklus PDCA harus berputar. Artinya, proses Plan Do Check Action harus dijalankan. Pekerjaan

harus direncanakan. Rencana yang telah dibuat harus dijalankan. Pelaksanaan pekerjaan

dimonitoring, diukur atau dinilai. Hasil penilaian dilakukan analisis, hasil analisis digunakan

untuk merencanakan pengembangan berikutnya. Demikian seterusnya sehingga siklus PDCA

berjalan dan organisasi akan selalu mampu memenuhi standar mutu dan berkembang secara

berkelanjutan.

Siklus PDCA dapat diibaratkan seperti sebuah bola yang harus di dorong naik menuju ke

arah tujuan yang telah ditetapkan yang letaknya di atas. Untuk itu diperlukan upaya dan tenaga

yang tidak sedikit untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa upaya, mustahil bola siklus PDCA

tersebut akan mencapai tujuannya. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai mutu tertentu

itu harus diupayakan, diusahakan dan di dukung oleh semua pihak yang berkepentingan. Mutu

yang baik tidak mungkin datang dengan sendirinya. Namun dalam upaya mendorong bola siklus

PDCA tersebut ke atas, selain diperlukan upaya dan tekad untuk mendorongnya sampai di atas

juga diperlukan alat untuk mengganjal agar bola siklus PDCA ini tidak turun ke bawah tetapi

bisa di tahan pada level tertentu. Alat untuk mengganjal hal tersebut adalah standar. Jika target

pada level tertentu sudah tercapai maka bola siklus PDCA ini bisa di dorong lagi lebih ke atas.

Demikian seterusnya sampai bola siklus PDCA ini mencapai tujuan.

4.bp.blogspot.com

Siklus PDCA

Plan (Perencanaan)

Dalam tahapan siklus PDCA ini tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisa

masalah. Tentukanlah masalahnya. Identifikasi dengan tepat. Beberapa management tools yang

bisa digunakan dalam tahap ini antara lain Drill Down, Cause & Effect Diagrams dan The 5

Whys

Do (Kerjakan)

Mengembangkan dan menguji beberapa solusi yang potensial. Fase ini melibatkan beberapa

kegiatan:

1. Menghasilkan solusi yang mungkin

2. Memilih yang terbaik dari solusi tersebut, bisa dengan menggunakan Impact Analysis

3. Menerapkan atau menguji solusi yang di dapat pada skala kecil atau group kecil atau pada area

yang terbatas.

PENTING: Dalam siklus PDCA, Do bukanlah menjalankan proses tetapi melakukan uji coba

atau test. Proses dijalankan pada tahap Act.

Check (Cek)

Mengukur tingkat efektifitas hasil uji test solusi yang dikerjakan dan menganalisa apakah hal

itu bisa diterapkan dengan cara lain. Pada tahap ini kita mengukur seberapa efektif percobaan

yang telah dilakukan pada tahap siklus PDCA sebelumnya yaitu: Do. Selain itu, tahapan ini juga

menarik pembelajaran sebanyak mungkin sehingga nantinya bisa dihasilkan hasil yang lebih

baik.

Dalam tahapan siklus PDCA Do dan Check – dengan melihat skala dan area perbaikan yang

akan dilakukan – kita dapat mengulangi tahapan ini sebelum ke tahapan berikutnya jika dirasa

perlu. Jika hasilnya sudah memuaskan barulah kita dapat menuju ke tahap siklus PDCA

berikutnya yaitu: Act

Act (Tindaklanjuti)

Menindaklanjuti hasil untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Ini berarti juga meninjau

seluruh langkah dan memodifikasi proses untuk memperbaikinya sebelum implementasi

berikutnya. Jika tahapan ini sudah selesai dan kita sudah sampai di tahapan berikutnya yang

lebih baik, kita bisa mengulang proses ini dari awal kembali untuk mencapai tahapan yang lebih

tinggi.

Siklus PDCA memberikan kita tahapan proses pemecahan masalah yang terukur dan akurat.

Siklus PDCA ini efektif untuk:

1. membantu penerapan Kaizen atau Proses Perbaikan Terus Menerus. Ketika siklus PDCA

ini diulangi kembali ia akan membuka kemungkinan untuk menemukan area baru yang perlu

ditingkatkan.

2. Mengindentifikasi solusi solusi baru untuk meningkatkan proses berulang secara signifikan.

3. Membuka cakrawala yang lebih luas akan solusi masalah yang ada, mengujinya dan

meningkatkan hasilnya dalam proses yang terkontrol sebelum diimplementasikan secara luas.

4. Menghindari pemborosan sumber daya secara luas.

Quality of Service

(disingkat menjadi QoS) merupakan mekanisme jaringan yang memungkinkan aplikasi-aplikasi

atau layanan dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.

Kinerja jaringan komputer dapat bervariasi akibat beberapa masalah, seperti halnya

masalah bandwidth, latency dan jitter, yang dapat membuat efek yang cukup besar bagi banyak

aplikasi. Sebagai contoh, komunikasi suara (seperti VoIP atau IP Telephony) serta video

streaming dapat membuat pengguna frustrasi ketika paket data aplikasi tersebut dialirkan di atas

jaringan dengan bandwidthyang tidak cukup, dengan latency yang tidak dapat diprediksi, atau

jitter yang berlebih. Fitur Quality of Service (QoS) ini dapat menjadikan bandwidth, latency,

dan jitter dapat diprediksi dan dicocokkan dengan kebutuhan aplikasi yang digunakan di dalam

jaringan tersebut yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar